Tolak Lokasi Karantina, Petugas Diserang Dengan Parang

Mobil petugas yang diserang

   SANANA – Petugas gugus tugas penanganan percepatan virus corona Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), dihadang warga Desa Pohea, Kecamatan Sanana Utara. Hal ini terjadi lantaran warga menolak ruang serbaguna kantor Bupati dijadikan tempat karantina.

Awalnya, petugas kesehatan lebih dulu menuju ke kantor Bupati untuk mempersiapkan segala kebutuhan terkait dengan karantina. Akan tetapi, petugas tersebut telah dihadang oleh warga Pohea. Mereka merasa takut karena ada sebagian warga yang sudah mulai emosi, sehingga ada yang ngamuk dan ada yang sudah memukul mobil.

Tak lama, Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) I, Syafrudin Buamona bersama petugas lainnya tiba di lokasi. Saat tiba, emosi warga semakin tak bisa di redah. Bahkan, ada batu yang sudah mulai melayang di mana-mana. Petugas akhirnya dipaksa mundur oleh warga. Hanya saja, selain menggunakan batu, warga juga menggunakan kayu, bahkan ada yang petugas yang kedapatan warga membawa senjata tajam, yakni parang.

Padahal, tujuan mereka datang di kantor Bupati itu hanya untuk membawa peralatan untuk karantina. Belum membawa pasien. Setahu petugas, Pemerintah Desa Pohea sudah sejak awal tahu akan adanya karantina di gedung serbaguna kantor Bupati. Petugas menganggap kalau pemerintah desa sudah menyampaikan ke warganya. Ternyata tidak, malah jauh lebih menegangkan.

“Iya, awalnya petugas kesehatan yang lebih dulu untuk membawa sejumlah peralatan untuk karantina. Tetapi dihadang oleh warga. Warga menolak gedung serba guna dijadikan tempat karantina. Saya tiba di lokasi tapi suasana sudah semakin panas. Padahal kami datang untuk menanyakan baik-baik ke warga untuk mencari solusi lainnya. Tetapi kami sudah dihadang habis-habisan,” kata Syafrudin, Sabtu (9/5). Untungnya, Syafrudin mengatakan, pada kejadian itu tidak ada petugas yang korban. Akan tetapi, beberapa mobil dinas telah dilempar menyebabkan kaca pecah. “Kami sangat panik, karena batu sudah melayang di mana-mana. Ada yang ngamuk pakai kayu, ada yang pakai parang,” ujarnya.

“Kalau saya tidak cepat, mungkin saya sudah dapat potong dari salah satu warga. Warga sudah pegang baju saya, saya bersikeras untuk lepas dan lari. Tapi ditangan dia sudah ada sebilah parang,” kata salah satu petugas TRC. Pasca kejadian itu, petugas langsung menuju ke Polres Kabupaten Sula untuk melakukan laporan polisi atas peristiwa itu.

Diduga kejadian itu dipimpin Kepala Desa Pohea, Rudi Duwila. Saat dikonfirmasi, Rudi membantah kalau dirinya tidak pernah menyuruh warga untuk menyerang petugas. “Demi Allah saya tidak suruh warga. Habis sholat tarawih kemarin malam rumah saya diserang oleh warga saya sendiri,” katanya kepada wartawan saat di konfirmasi via telepon seluler.Rudi mengatakan, sebelum peristiwa itu, mereka dan camat, dan aparat panggil seluruh warga untuk membicarakan ini. “Pada saat masih bicara dengan warga di posko desa, mobil Satpol PP tiba dan membawa barang-barang. Akhirnya warga melihat itu dan terjadi insiden. Jadi peristiwa itu tidak ada yang atur,” ucapnya. “Saya ini serba salah Kejadian ini karena petugas penanganan Covid-19 yang lemah, semestinya petugas dari kabupaten datang duluan untuk sosialisasi ke masyarakat, supaya masyarakat juga tahu,” kata Rudi. (nai)

Berita Terkait

Berikan Komentar pada "Tolak Lokasi Karantina, Petugas Diserang Dengan Parang"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*