Dikatakan pula, berdasarkan perbandingan data SSGI tahun 2021 dan 2022 terdapat tiga kabupaten yang prevalensi stuntingnya mengalami peningkatan antara lain Kepulauan Sula sebesar 0,80 persen, Pulau Morotai (2,90 persen), dan Halmahera Tengah (3,10 persen).
“Sehingga diharapkan sekali lagi, kabupaten dan kota dapat kerja keras untuk mengendalikan angka prevalensi stunting di kabupaten masing-masing melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif,” pintanya.
Untuk kabupaten dan kota yang prevalensi stuntingnya turun, lanjut Sarmin, perlu diberikan apresiasi setinggi-tingginya untuk setiap kerja kerasnya dengan harapan di tahun 2023 jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, diungkapkan Sarmin, tantangan berikutnya yakni berdasarkan data monitoring pelaksanaan delapan aksi konvergensi, dari 29 cakupan pelayanan esensial di Malut belum semuanya memenuhi target pada tahun 2022.
