“Pada bagian kedua yang membahas terkait Tuan Guru, buku itu dimulai dengan puisi ‘immortal soul’ karya Luqman Rakiep yang sangat menarik,” lanjut Yanuardi. Beberapa tulisan di dalamnya berjudul “From Dar al-Islam to a Place of Sadness: Understanding the struggles of Tuan Guru of Tidore at the Cape of Good Hope 1780-1807” karya Shafiq Morton.
Kemudian tulisan “Tuan Guru’s Educational influence on the colonial Cape Muslims (circa 18th and 19th centuries): A Synopsis” karya Ebrahim Salie yang disusul tulisan “Tuan Guru: His Relevance in the 21st Century” karya Luqman Rakiep and Muttaqin Rakiep dan “Da’wah During the Dutch and British Colonial Period” karya Ebrahim Rhoda.
Buku lainnya yang dianggap penting untuk diulas adalah karya jurnalis masyhur fotografi yang termasuk dalam 500 tokoh muslim berpengaruh di dunia oleh Royal Islamic Institute in Jordan, yakni Shafiq Morton, berjudul From the Spice Islands to Cape Town: The Life and Times of Tuan Guru” yang diterbitkan National Awqaf Foundation of South Africa tahun 2018 setebal 170 halaman.
“Selain melakukan studi pustaka, hal penting juga adalah perlunya membuat film dokumenter tentang Tuan Guru,” tambah Husain Ali.
Selanjutnya, menurut Rektor Universitas Nuku Idris Sudin, perlunya ada komunikasi lebih lanjut dengan Pemerintah Kota Tidore Kepulauan sebagai pihak yang akan mengusulkan Tuan Guru sebagai Pahlawan Nasional, sementara itu studi-studi dapat dilanjutkan dari sekarang.
