Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk meniadakan berbagai keberhasilan pembangunan yang telah dicapai Indonesia. Justru sebaliknya, pertanyaan itu diperlukan agar pembangunan tidak kehilangan arah dan kemerdekaan tidak berhenti menjadi sebuah perayaan seremonial. Indonesia memang telah mengalami banyak perubahan. Infrastruktur tumbuh, konektivitas semakin diperluas, teknologi berkembang, dan berbagai program pembangunan terus diarahkan ke daerah. Namun, tantangan geografis Indonesia membuat pemerataan pembangunan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan yang biasa digunakan di wilayah daratan.
Pembangunan Indonesia harus dengan cara berpikir sebagai negara kepulauan. Laut selama ini sering dipersepsikan sebagai pemisah. Padahal bagi negara maritim seperti Indonesia, laut seharusnya dipandang sebagai penghubung. Laut bukan batas yang membuat pulau-pulau menjadi terisolasi, melainkan ruang yang menyatukan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan politik bangsa. Karena itu, pembangunan daerah kepulauan harus menjadikan konektivitas laut sebagai salah satu fondasi utama.
Sebuah pulau tidak akan berkembang hanya karena memiliki jalan yang baik. Ia membutuhkan pelabuhan atau dermaga yang layak, transportasi laut yang teratur, jaringan listrik yang andal, komunikasi yang memadai, fasilitas kesehatan, sekolah berkualitas, serta sistem logistik yang memungkinkan produk masyarakat bergerak menuju pasar. Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada infrastruktur. Hal yang jauh lebih penting dari itu adalah apakah infrastruktur tersebut benar-benar mengubah kehidupan masyarakat.
Pelabuhan yang dibangun tanpa sistem transportasi yang teratur tidak akan banyak membantu. Kapal yang tersedia tanpa jadwal yang pasti juga tidak cukup. Jaringan internet yang masuk ke sebuah pulau tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan, jika masyarakat tidak memiliki kemampuan dan ekosistem untuk memanfaatkannya. Begitu pula pembangunan pasar tanpa dukungan rantai pasok dan transportasi hanya akan menghasilkan bangunan, bukan pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, pembangunan di daerah kepulauan tidak boleh berhenti pada logika proyek. Pembangunan harus berbicara tentang dampak. Ukuran keberhasilan pembangunan bukan semata-mata berapa kilometer jalan yang dibangun, berapa banyak pelabuhan yang diresmikan, atau berapa besar anggaran yang terserap. Ukuran yang lebih penting adalah apakah seorang nelayan memperoleh pendapatan yang lebih baik, apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas, apakah masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat, dan apakah keluarga di pulau-pulau kecil memiliki peluang untuk membangun kehidupan yang lebih baik.