Oleh : Nasarudin Amin Wartawan Fajar Malut
Sebentar lagi, kita sudah akan berdiri di ruang tamu pemilu 2024, sebuah panggung demokrasi yang menjadi pusat perhatian publik. Pemilu telah menjadi magnet yang menarik perhatian kita semua, seolah-olah menjadi pusat gravitasi dalam perbincangan masyarakat. Pemilu bukan sekadar acara politik, melainkan momen krusial dalam perjalanan demokrasi kita. Catatan ini saya tulis tepat 105 hari menjelang hari pencoblosan surat suara, sebuah momen dan sekaligus menjadi alarm mengenai pentingnya menjaga dan mengembangkan demokrasi kita.
Di sekeliling kita, terasa ada pertempuran alam yang menakjubkan. Hujan dan panas, dua kekuatan alam yang begitu kontras, seolah-olah saling berkompetisi untuk memikat bumi. Hujan turun dengan gemuruh, membasahi tanah dengan kelembutan disertai dentuman petir yang mengguncang, sementara matahari bersinar dengan kehangatan yang intens. Mereka menciptakan anomali cuaca yang tak dapat diabaikan, mengingatkan kita akan betapa kuatnya alam. Namun, pertarungan ini bukan hanya milik cuaca semata.
Di dunia politik, suhu juga meningkat. Ketegangan, harapan, dan kekhawatiran menyelimuti pikiran kita. Masyarakat sipil dan warga negara sudah menaruh harapan, setidaknya pemilu serentak kali ini mampu menjadi pertunjukan orkestra yang menggabungkan elemen-elemen intelektual dan emosional yang mendalam. Sebuah panggung di mana visi dan nilai-nilai berkompetisi untuk membentuk masa depan negara ini.
Tentu saja, peran Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sangat penting. KPU mengatur jadwal pemilu, menjalankan proses pemilihan, dan mengumumkan hasilnya. Mereka harus memastikan bahwa pemilu sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi, seperti transparansi dan partisipasi warga negara.

