Dalam kegiatan itu, lanjut Deky, bupati sedikit sempat menyinggung aksesibilitas jalan termasuk di Loloda. Apalagi diketahui, di Loloda Utara yang menjadi objek pembangunan jalan yang dilakukan selama beberapa tahun terakhir.
“Selaku pimpinan daerah merasa gembira dengan apa yang telah dilakukan di Loloda Utara menjelang masa cuti sementara. Sehingga lewat hal ini, bupati sedikit mengilustrasikan secara khusus pembangunan akses jalan yang merupakan substansi dimana dengan dibangun akses ini dapat sedikit membantu masyarakat,” jelasnya.
Dijelaskannya, dalam video tersebut Bupati menyebutkan jalan yang dibangun itu bukan hanya milik masyarakat Loloda semata tetapi merupakan akses yang dapat digunakan bagi seluruh masyarakat. “Kata-kata yang keluar, “saya bukan bodoh sama dengan dorang” ini akibat dari bahasa sebelumnya yang disampaikan kepada kelompok tertentu yang selalu membuli beliau dan bukan kepada masyarakat Loloda Utara maupun Loloda Kepulauan. Kata ini dipahami lebih dalam tertuju bahwa sampai jalan ini dibangun seakan-akan ada pengakuan orang tertentu tidak mengakui jalan ini,” jelas Deky dalam konprensi pers, di ruang Fredy Tjandua, Rabu (16/09/2020).
Ditambahkannya, dari publish video di medsos yang dilakukan ini kemudian membuat multitafsir. Pemkab juga akan melihat hal ini karena dianggap memprovokasi masyarakat.
“Kami mempunyai video pembanding secara utuh dan tidak sepenggal-penggal seperti yang publikasikan,” jelasnya. Sementara itu, Kabag Hukum Setda Halut, Haerudin Dodo, mengajak kepada semua pihak dan melihat kalimat dalam video dilihat dalam satu kesatuan. “Kami melihat ini dilakukan sepenggal. Kami tim hukum akan melihat pengedit dan penyebarnya, sambil kami sedang melakukan kajian,” jelasnya. (fer)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)
