BPBD Taliabu Ajukan Proposal 50 M ke BNPB

Sutomo Teapon saat diwawancarai

BOBONG – Menanggapi Dampak Bencana Alam yang kerap terjadi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pulau Taliabu tahun ini mengajukan proposal kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan nilai yang cukup fantastis, yakni 50 miliar.

Kepala BPBD Kabupaten Pulau Taliabu, Sutomo Teapon,S.Stp mengatakan, projects proposal yang diajukan sebesar 50 miliar tersebut untuk menanggulangi dampak bencana daerah di kabupaten pulau Taliabu yang setiap tahun terjadi.
Kata dia, jika permintaan tersebut dapat dianulir oleh pemerintah pusat, maka dipastikan seluruh ibukota kecamatan akan di bangun swering pantai. disamping itu, ada sejumlah kegiatan fisik yang diprioritaskan untuk menanggulangi dampak banjir seperti drainase maupun gorong-gorong.

“Tahun ini kita ajukan 50 miliar untuk menanggulangi dampak bencana di daerah. Semoga itu bisa di setujui oleh BNPB sehingga rencana kita untuk membangun swering di seluruh ibukota kecamatan di pulau Taliabu tahun ini bisa dilakukan, dan penyediaan sarana penghubung darurat lainnya juga bisa kita sediakan untuk masyarakat seperti gorong gorong atau drainase yang di anggap penting dan mendesak,” Kata Sutomo kepada fajarmalut.com.

Amatan media ini, hampir seluruh ibukota kecamatan di Pulau Taliabu sangat membutuhkan swering atau penahan ombak maupun tanggul penahan banjir yang hampir setiap musim penghujan dan musim ombak sangat mengkhawatirkan masyarakat. Dari delapan kecamatan yang tersebar di kabupaten Pulau Taliabu, dua diantaranya adalah kecamatan Tabona dan kecamatan Lede.

Di kecamatan Tabona misalnya, setiap tahun terjadi pergantian musim, dan yang paling dikhawatirkan adalah musim angin selatan. Sebab pada musim tersebut selalu saja terjadi gelombang tinggi yang kerap berdampak terhadap rumah warga, terutama rumah yang berada di pesisir pantai.

Begitu pula di kecamatan Lede, terpantau di dusun Haliba Desa Lede kecamatan Lede, sejumlah rumah tampak tertimbun pasir pantai akibat hantaman ombak, hal tersebut sekaligus merupakan tanda bahwa di desa tersebut telah terjadi pengikisan pantai, sehingga sebagian rumah yang dulunya masih berjarak jauh atau beberapa meter dari tepi pantai, kini semakin dekat akibat pengikisan.

Sementara di Desa Balohang Kecamatan Lede, Banjir bandang senantiasa mengancam perumahan penduduk di sekitar sungai Balohang, sehingga tanaman para petani juga ikut terancam. Warga berharap, dampak bencana tersebut haruslah menjadi perhatian pemerintah daerah agar warga tidak secara terus menerus menanggung resiko bencana.

“Pengikisan pantai di Lede setiap tahun sangat terasa sekali, tapi sampai sejauh ini belum ada perhatian pemerintah daerah, jika ini biarkan, maka bukan tak mungkin, tahun-tahun berikutnya pasti rumah masyarakat di pesisir pantai akan tersapu ombak. Intinya harus cepat dibuat penahan ombak. Dan untuk di sungai Balohang kami harapkan agar bisa dibangun tanggul penahan banjir karena sudah berulang kali warga di sekitar sungai Itu dilanda banjir, bahkan sejumlah perumahan warga sudah tersapu banjir tanpa ada ganti rugi atau bantuan pemerintah setempat,” ungkap Ari salah satu warga Desa Lede.

Sebelumnya, bupati pulau Taliabu, Aliong Mus pun menaruh perhatian pada kawasan pantai Lede, menurutnya, pengikisan pantai Lede sudah sangat menghawatirkan dan ia berharap dapat mempercepat pembangunan tanggul penahanan ombak di ibukota kecamatan itu. (jos/bro)

Berita Terkait