Gelombang Pasang Masih Terjadi, BMKG Minta Warga Pesisir Ternate Waspada

Gelombang pasang sebabkan banjr rob ancam kota Ternate

“Kalau tinggi gelombang cukup kuat dan hempasan menuju ke wilayah daratan itu diprediksi untuk sementara sampai tanggal 7 atau 8 Desember,”

TERNATE – Gelombang pasang dan banjir rob yang menghantam pesisir Kota Ternate sejak Sabtu (12/04/21) sore harus diwaspadai warga yang bermukim di pesisir pantai.

Sebab kondisi itu diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa hari kedepan. Hal ini sesuai dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah.

Dimana gelombang pasang dan banjir rob yang menghantam Kota Ternate itu mengakibatkan sejumlah pemukiman warga dan fasilitas pelabuhan di kawasan pesisir Kota Ternate rusak, salah satunya pelabuhan speed boat Kota Baru, Ternate Tengah dan rumah warga di Kelurahan Sangaji Ternate Utara, sementara sejumlah pemukiman warga di Ternate Selatan dan Kecamatan Moti terendam akibat banjir rob.

Prakirawan BMKG Setiawan mengatakan, dalam beberapa hari kedepan tinggi gelombang di wilayah perairan Maluku Utara khususnya di bagian utara masih cukup kuat, karena adanya pusat tekanan rendah di perairan Philipina yang masuk sampai ke wilayah Maluku Utara. 

“Ini yang menyebabkan limpasan tinggi gelombang mengarah ke wilayah Ternate dan sekitarnya sampai ke Halmahera Barat bahkan Morotai, dipicu juga di bulan Desember ini pasang surut permukaan air laut pada sore hari yang rata-rata mengalami kenaikan,” katanya kepada Fajar Malut.

Salah satu tempat wisata juga terkena dampak

Hal ini kata dia, ditambah dengan penguatan suhu muka laut yang terjadi di wilayah laut Maluku, kemudian terjadi konvergensi atau pertemuan dua mata angin sehingga terjadi pembentukan awan konvektif (awan yang dihasilkan oleh proses konveksi akibat pemanasan radiasi surya) dan awan cumulonimbus atau awan yang disertai petir dan guntur. 

Pertemuan kedua awan tersebut yang biasanya menurut Setiawan menghasilkan puting beliung di lautan, hal itu yang memberikan dukungan kuat tinggi gelombang yang sudah mengalami peningkatan ditambah kekuatan angin hempasan menuju wilayah lautan.

“Itu lah yang menjadikan penguatan air laut menuju ke daratan lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal, sehingga kita saksikan terjadi limpasan angin yang menguatkan gelombang menuju ke daratan, itu kalau dalam meteorologis ada istilah baru namanya tsunami metrologis namanya,” jelas dia.

Dikatakannya, tsunami sendiri di istilahkan gelombang pelabuhan atau ada gelombang air laut menuju ke daratan. Dan tsunami sendiri kata dia, dapat disebabkan karena gempa bumi, bisa disebabkan karena longsoran dibawah laut atau ada hempasan angin yang cukup kuat disertai akumulasi tinggi gelombang yang sebelum itu sudah tinggi menuju ke daratan.

“Kalau tinggi gelombang cukup kuat dan hempasan menuju ke wilayah daratan itu diprediksi untuk sementara sampai tanggal 7 atau 8 Desember, apakah terjadi hempasan sama seperti kejadian hari ini. Itu nanti dilihat apakah ada pembentukan awan konvektif atau tidak, kalau terjadi pembentukan awan konvektif yang cukup kuat hempasan menuju ke daratan itu bisa jadi kejadian ini akan bisa terjadi kembali, apalagi di awal bulan Desember ini pasang air laut itu di sore hari,” terangnya.

Sebab lanjut dia, kondisi ini terjadi pada siang menuju ke sore hari ditambah gelombang pasang untuk wilayah Ternate pada sore hari cukup tinggi kenaikan, terjadi kondisi cuaca pihaknya telah menyampaikan ke otoritas penyeberangan yang ada di Kota Ternate. 

“Kita sejak dari tanggal 1 Desember menyampaikan ke KSOP dan ASDP bahwa ada potensi terjadinya cuaca ekstrim baik itu hujan lebat disertai angin dan ada juga peningkatan tinggi gelombang, sehingga ketika mereka memberikan izin dapat mengacu dengan informasi BMKG, dan mereka melaksanakan tugas itu seperti perjalanan jarak jauh Ternate-Morotai, Ternate-Batang Dua dari informasi yang disampaikan KSOP sementara diberhentikan sampai kami dari BMKG menginformasikan kondisi cuaca kondusif untuk melakukan perjalanan jarak jauh,” ungkap dia.

Sementara untuk pelayaran speed boat antar pulau menurutnya, aktifitas disesuaikan dengan kondisi cuaca, jika cuaca ekstrim maka pelayarannya ditutup, bahkan alat BMKG juga sudah terpasang di KSOP.  “Sehingga mereka sudah bisa melihat, dan selalu koordinasi dengan kita dan mengacu dengan informasi BMKG,” katanya.

Dia sendiri menghimbau ke warga yang bermukim di pesisir pantai, karena dalam beberapa ke depan tinggi gelombang di wilayah Maluku Utara, terutama di wilayah Ternate sekitarnya hingga beberapa lokasi sampai Morotai cukup tinggi, karena masih berpeluang pembentukan awan konvektif, sehingga kedepan harus tetap diwaspadai. 

“Bagi masyarakat yang ada di pesisir akan mendapatkan tinggi gelombang yang lebih tinggi dari pada normal sebelumnya, jadi waspada. Lebih baik kedepan tidak membangun rumah di bibir pantai,” tegasnya. (cim)

Berita Terkait