DARUBA – Aan Garmujianto dan Harfi bersama dua Jeep Willys menjelajah Timur Indonesia demi menemukan cerita jejak peninggalan Perang Dunia (PD) ke-II.
Sudah sekian lama keinginan dua pria paruh baya ini untuk bisa sampai di Kabupaten Pulau Morotai. Dengan mendengar cerita, membaca membuat penasaran mereka untuk sampai ke Morotai.

Morotai adalah pulau kecil yang menyimpan sejarah perang dunia ke II yang masih terlihat bekasnya. Perang dunia ke II adalah sebuah perang global yang berlangsung mulai tahun 1939 sampai 1945. Perang ini melibatkan banyak sekali negara di dunia, termasuk semua kekuatan besar yang pada akhirnya membentuk dua aliansi militer yang saling bertentangan.
Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Morotai bagian barat daya. Basis di Morotai dibutuhkan untuk membebaskan Filipina. Tak bisa dimungkiri adanya kejadian itu menyisakan jejak-jejak sejarah tersendiri.

Berbagai barang berupa senjata dan situs-situs penting menjadi saksi bisu pertempuran besar tersebut. Sampai saat ini keping-keping memori perang dunia ke II itu masih terus dikumpulkan secara perlahan oleh seorang pemuda yang dengan ikhlas mengumpulkan dan mengoleksi benda-benda itu.
Dia lah Muchlis Eso yang membuat Aan dan Harfi dua pria paruh baya, jauh-jauh melakukan perjalanan dari Jakarta hingga ke Kabupaten Pulau Morotai, dengan penasaran sosok Muchlis Eso yang selama kurang lebih 30 tahun masih terus mengumpulkan barang-barang peninggalan perang dunia ke II lalu di museumkan di rumahnya.
Aan Garmujianto mengatakan, Jeep Willys yang ditumpangi dari Jakarta adalah Jeep Willys yang kembali ke kampung halaman.

seperti museum berjalan baginya, tak hanya mobil Jeepnya, tapi berbagai benda yang berada di dalam jeep yang di koleksinya terdapat benda-benda peninggalan perang dunia ke II, di antaranya senapan, radio, sekop, helm, pakaian, pisau, rantai dan masih banyak lagi.
Kata Aan, Morotai adalah museum terbesar di dunia, dengan harapan Muchlis Eso, harus ada penerus yang menjaga dan merawat barang sejarah yang sangat bernilai tinggi. “Semua barang ini jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah akan tetapi terus berada di museum swadayanya,” harapnya.(red)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

