TERNATE – Pemerintah Kota Ternate resmi mengakhiri masa tanggap darurat bencana gempa bumi berkekuatan 7,6 skala richter yang mengguncang wilayah Kota Ternate sejak awal 2 April lalu yang berdampak pada ratusan rumah dan fasilitas mengalami kerusakan berakhir.
Berakhirnya masa tanggap darurat ini sesuai hasil rapat koordinasi yang digelar di Posko Penanggulangan Bencana pada Rabu (15/4/2026), yang dipimpin langsung Ketua Tim Penanggulangan Bencana Kota Ternate Rizal Marsaoly bersama Forkopimda yang diikuti instansi terkait lainnya.
Dalam rapat tersebut diputuskan status daruray bencana ditingkatkan menjadi Masa Transisi Pemulihan untuk rehablitiasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) .
Ketua Tim Penanganan Bencana Kota Ternate Rizal Marsaoly mengatakan, keputusan ini diambil setelah menerima laporan resmi posko lapangan di kecamatan Kecamatan Pulau Batang Dua yang dipimpin langsung Kepala BPBD Ferry Hamdani Wolley sehingga diputuskan masa transisi berlangsung selama 60 hari.
“Masa transisi pemulihan ini ditetapkan akan berlangsung selama 60 hari, terhitung mulai 16 April 2026,” katanya, usai rapat.
Menurut Rizal, fokus utama dalam periode ini adalah tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Rehab-Rekon) terhadap infrastruktur yang rusak, meliputi pembersihan puing-puing bangunan, perbaikan fasilitas pendidikan (sekolah) dan rumah ibadah, pembangunan kembali sekitar 263 unit rumah warga yang mengalami kerusakan, kemudian koordinasi dengan Kementerian Perumahan Rakyat (PUPR) terkait bantuan teknis dan pendanaan.
“Sehingga dengan SK ini nantinya jadi dasar kami ajukan ke Kementrian Perumahan Rakyat melalui ibu Gubernur, untuk jadi dasar perbaikan terhadap 263 unit rumah yang mengalami kerusakan,” ungkapnya.
Lanjut Sekda, kerusakan rumah serta fasilitas ibadah maupun sekolah di kecamatan Batang Dua dampak dari gempa bumi ini terus di update oleh Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman dan Pertanahan Kota Ternate.
Meski kini dalam masa transisi, namun Rizal memastikan, distribusi logistik tetap dilakukan jika bantuan sudah terkumpul baik dengan kapal reguler maupun kapal Basarnas.
“Sesuai laporan dari BMKG meski intensitas gempa kenurun, tapi kami juga tetap meminta harus terus waspada dan berikhtiar,” terangnya.
Rizal mengatakan, sesuai laporan posko lapangan hingga saat ini, kondisi di beberapa titik pengungsian mulai menunjukkan perubahan positif, dimana warga sudah mulai kembali ke rumah yaknu di kelurahan Bido dan Lelewi, sementara Mayau dan Perum sebagian warga masih bertahan di posko yang ada di SD dan SMP, sedang di dua kelurahan lain yakni Tifure dan Pante Sagu kondisinya sudah relatif normal.
“Kalau ini dia sudah berangsur pulih, maka semuanya sudah bisa kembali ke rumah,” tandasnya.
Meski status sudah beralih ke masa pemulihan, pemerintah tetap menghimbau masyarakat untuk selalu waspada dan tetap mengikuti arahan dari petugas di lapangan selama proses transisi berlangsung.
Kepala BMKG Kota Ternate Gede Eriksana Yasa mengatakan, sejak hari pertama gempa terjadi tercatat hingga saat ini sekitar 1.600 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 1,7 hingga 5,8.
Namun, tren aktivitas seismik menunjukkan penurunan yang signifikan.
“Pada Rabu pagi hingga siang, hanya tercatat 7 kali gempa susulan yang kekuatannya semakin mengecil dan tidak dirasakan semua masyarakat di Batang Dua. BMKG memprediksi aktivitas gempa susulan akan benar-benar berakhir dalam 2 hingga 3 minggu, sekarang 2 minggu kalau masih tapi sudah semakin sedikit,” tandasnya.
Dia menjelaskan, penyebab gempa ini akibat adanya deformasi batuan di kedalaman 33 KM di bawah permukaan bumi. Saat ini, batuan tersebut sedang dalam proses mencari kestabilan kembali (normalisasi), yang memicu rentetan gempa susulan.*
Editor : Hasim Ilyas
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

