BOBONG – Desa Pencado dan Desa Maluli, Kecamatan Taliabu Selatan dikenal sebagai desa penghasil kakao (Cokelat) terbesar di Kabupaten Pulau Taliabu sejak lama. Sayangnya, kini hasil kakao dari dua desa itu nyaris tidak terlihat lagi.
Selain peremajaan dilakukan secara generatif, para petani kakao juga luput dari perhatian pemerintah setempat. Dinas Pertanian (Distan) setempat mengakui, sejauh ini keunggulan hasil tani ini hampir tidak diperhatikan. Padahal sebelumnya, ketika musim panan sepanjang jalan ke Desa Pencado dan Desa Maluli terlihat warga menjemur Kakao.
“Dulu kalau kita jalan ke Pencado-Maluli, sepanjang jalan itu warga menjemur Kakao, tapi sekarang kasian hampir tidak ada,” kata Kadistan Taliabu, Septinus Barunggu, pekan kemarin
Berdasarkan data Distan setempat. tahun 2017-2018, hasil panen kakao dua desa itu mencapai 49 ton dalam 60 hektare, belum termasuk desa-desa lain. Untuk mengembangkan kakao, Distan mendelegasikan tenaga penyuluh pertanian di dua Desa Taliabu guna meningkatkan produktivitas petani kakao di dua desa tersebut.
Distan, kata dia, memberikan inovasi baru untuk petani agar mempertahankan potensi alam tersebut dengan mensosialisasikan penanaman kakao bukan secara generatif, melainkan sambung pucuk. Hal ini untuk mempercepat masa panen dari cara bercocok sebelumnya.
“Tadinya secara generatif Kakao dipanen selama 2 sampai 3 tahun. Namun dengan cara sambung pucuk, kakao akan dipanen dalam jangka waktu 15 bulan,” jelasnya. (bro)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

