Banjir, Warga Tiga Desa Swadaya Perbaiki Jembatan

Warga tiga desa perbaiki jembatan

BOBONG – Para Petani Desa Balohang, Desa Lede dan Desa Langganu, Kecamatan Lede, terpaksa harus swadaya membersihkan sisa banjir yang tersangkut di jembatan swadaya warga setempat pasca dilanda banjir bandang di sungai Balohang, Minggu (26/7) pagi akhir pekan kemarin.

Aksi gotong royong ini terpaksa dilakukan agar jembatan swadaya yang dibangun warga tiga desa senilai ratusan juta rupiah pada awal tahun 2020 tersebut tidak ikut tergerus banjir.

Jembatan swadaya itu merupakan satu – satunya akses para petani dan warga setempat untuk menyebrang ke perkebunan di wilayah sekitar maupun merupakan jalur lintas warga utara ke k ibu kota kabupaten.

Amatan Fajar Malut, ini pasca banjir di jembatan tersebut, puluhan warga melakukan pembersihan batang pohon maupun rumpun bambu yang tersangkut di jembatan tersebut dengan menggunakan peralatan seadanya.

Menurut Usman, warga Langganu, banjir diperkirakan setinggi empat meter hingga melewati ketinggian jembatan swadaya itu.  “Saat ini air sudah surut, kalau dari tadi malam sampai tadi pagi itu air sudah lewat di atas jembatan, bisa empat meter tingginya,” ungkap Usman disela-sela aktivitas gotong royong tersebut.

Asmin, warga Desa Balohang meminta agar Bupati Aliong Mus tidak melakukan pembiaran terhadap kondisi mereka di tiga desa tersebut untuk menanggung derita pembangunan dimasa pemerintahannya saat ini.

Menurut dia, Bupati Aliong Mus harus melanjutkan pembangunan jembatan miliaran rupiah yang pernah dibangun Pemkab Kepulauan Sula dimasa pemerintahan Ahmad Hidayat Mus selaku bupati yang tidak terselesaikan, jembatan bekas tangan AHM itu berada tepat disamping jembatan swadaya tersebut.

“Bagaimana ini pak, jembatan kami ini sudah rusak lagi, kami memang tidak bisa bertahan dengan jembatan swadaya ini karena kalau banjir, seperti sangat berbahaya, pasti rusak saja, di sungai ini mestinya jembatan besar,” tuturnya, sambil menunjukan jembatan bekas peninggalan Bupati Kepsul yang hanya kurang lebih lima meter dari jembatan swadaya tersebut.

Akibat banjir di sungai Balohang,  jembatan mengalami kerusakan berat dan tak bisa dilalui oleh kendaraan roda dua maupun roda empat.

Warga yang hendak ke kebun dan yang dari kebun hendak ke kampung terpaksa meninggalkan sepeda motor mereka dan terpaksa jalan kaki, tak sedikit para petani pun terpaksa mengurungkan niatnya ke kebun karena jembatan di sungai Balohang rusak parah. (bro)

Berita Terkait