Jasri Usman, Anak Petani Balon Wawali Ternate

Jasri Usman

TERNATE –  Sosok Jasri Usman di kanca politik Provinsi Maluku Utara tak  asing lagi. Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Maluku Utara, memiliki jejak hidup penuh dengan kesusahan.

Kepada media ini, pria kelahiran Kusubibi, Kabupaten Halmahera Selatan,  28 Oktober 1970 ini menceritakan kisahnya  sosok anak petani dari pasangan Usman Abudullah dan Hadijah Gafur. 

Meski ayahnya Usman, salah satu  tokoh agama, imam masjid  di kampung halaman, namun merupakan petani yang tangguh. Karakter sang ayah ini tertular kepada dirinya.  Hampir  sepuluh tahun,  Jasri menghabiskan masa kecil bersama otang tuanya dengan berkebun. Hidup  serba pas-pasan, bahkan ada  memori yang tidak pernah dilupakan Jasri. 

Memori itu tentang baju lebaran, sekolah, sholat dan mengaji.  Karena tak memilik baju, sang ibunya terpaksa menyulam  baju bekas  milik kakaknya.  Mata Jasri berkaca-kaca mengenang kisah itu. ”Waktu saya mau masuk sekolah dasar, tak ada apa-apa sama sekali saat itu. Lalu, ibu saya mengambil baju kakak saya yang sudah tak cocok dikenakannya. Ibu lalu menggunting baju itu, menjahitnya sendiri, termasuk menjahit bunga matahari di depan dan belakang baju, benang dari hasil olahan daun nanas. Saya selalu memeluk baju itu,” kisahnya.

Baju tersebut tak hanya dikenakan saat sholat dan mengaji. Melainkan juga jadi seragam sekolah dengan celana yang ditambal kiri kanan, telanjang kaki pula. Jasri tak minder, malahan dari baju itulah benih tekad mengubah hidup mulai tumbuh dalam dirinya. Setelah menamatkan pendidikan SD, Jasri mulai mengembara menimba ilmu di Madrasah Tsanawiyah Alkhairaat, Bacan.

Saat liburan sekolah, ia pulang kampung, melepas rindu pada orang tua dan keluarga. Tapi ia tak pangku kaki, harus bekerja bersama kakaknya, mencari damar dan kerja kelapa kopra agar bisa kembali bersekolah setelah liburan.

Pada 1990, lelaki murah senyum itu melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Ternate. Seperti di Bacan, di kota inipun, Jasri numpang hidup di salah satu tempat  di Bastiong. Jarak tempat tinggal yang begitu jauh dengan sekolah, tak jarang ia lalui dengan jalan kaki—sesuatu yang tak mungkin dilakukan anak-anak di zaman kini, bahkan pada generasi sezamannya pun biasa dihitung dengan jari melakukan hal seperti ini.

Sambil sekolah, Jasri yang jadi pengurus OSIS, bekerja sebagai buruh di pabrik minyak goreng Bimoli, Toboko Ternate, agar meringankan beban orang tua.   “Saya ambil shift malam. Saya sangat bersyukur karena  pemilik tempat tinggalnya  sudah saya anggap  orang tua sendiri, meluangkan waktu saya, sehingga bisa kerja di Bimoli,” kata Jasri

Menjadi buruh di Bimoli, dan jalan kaki sejauh itu masih ia tapaki ketika melanjutkan pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin, Ternate, tahun 1990, walau tak sekencang seperti waktu di Madrasah Aliyah dulu. Padahal, selain berstatus mahasiswa, ia aktif di organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Pelajar Islam Indonesia (PII).

Sebelum di kampus ini, Jasri mengikuti seleksi nasional penerimaan mahasiswa baru dengan membidik jurusan sosial politik pada dua kampus ternama, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Jasri lulus di Unhas yang biaya masuknya berkisar Rp 7 jutaan. Pontang panting mencari bantuan, tak dapat.  Lalu, bersama kakaknya, sensor kayu empat kubik yang harganya 3 jutaan, sementara waktu mendaftar ulang cuma sepekan.

Kecewa sudah pasti, pada kondisi psikologis seperti  itu, ia mendaftar di Unkhair, namun ia dibully seorang senior dengan kata-kata “tidak terima mahasiswa buangan,” sehingga ia memutuskan untuk istirahat.

Jasri lalu ke Galela, kerja kelapa kopra selama satu tahun demi mengumpulkan biaya kuliah di tahun berikutnya. Hasil peluhnya itu cukup untuk kuliah di luar daerah, namun menibang usia ibu-ayah, dan tak kuasa menolak permintaan sang ibu untuk kuliah di perguruan tinggi agama terbesar di Maluku Utara itu.

Jasri pun mengurungkan niatnya menimba ilmu di Jawa, atau Makassar.

Usai menggondol gelar sarjana di IAIN, suami dari Lili Mohdar—gadis Rua berdarah Ternate tulen itu menjadi buruh di Pelabuhan Feri dalam waktu cukup lama. Dari pahitnya kehidupan ia lalui, sekalipun kedua orang tuanya tak merasakan pendidikan formal, tak pula mengenal aksara latin sebesar gunung, saripati nilai-nilai keagamaan begitu kuat dipatrikan pada Jasri dan saudaranya-saudaranya.

“Ibu saya selalu ingatkan, milik orang lain, milik orang lain. Begitu juga sebaliknya. Artinya, jangan pernah mengambil milik orang lain. Sepanjang hidup saya tetap memegang amanah ibu saya itu,” kenang Jasri, sembari menambahkan, waktu masih kecil, saya mengambil buah di kebun nenek saya. Mengetahui ini, ibu saya marah, dan suruh saya kembalikan. Kata ibu, kalau mau, minta dulu sama nenek,” ungkapnya.  

Anak petani, kini Calon Wakil  Walikota  bersama Tauhid Soleman selaku Calon Walikota Ternate. Diusung Partai NasDem dan PKB, mereka   berkomitmen  dilandasi niat yang tulus  siap bertarung  dalam pemilihan kepala daerah 9 Desember 2020.  

Jasri  banyak belajar tentang liku-liku kehidupan, bahkan dirinya tak pernah lupa orang-orang yang berjasa kepadanya. “Atas dasar itulah saya siap lahir batin maju wakil walikota Ternate hanya untuk pengabdian,” tutup Jasri mengakhiri ceritanya. (dex/adv)

Berita Terkait