Zainuddin A. Basyir (Penghulu Madya dan Ketua Angkatan X Orientasi Pelopor Moderasi Beragama Kemenag Malut 2022)
Dalam sepekan terakhir, umat Islam dihadapkan perbedaan pendapat penentuaan Idul Adha, akibat perbedaan keputusan awal Dzulhijjah yang otomatis berbeda juga hari Arafah antara Pemerintah Arab Saudi dan pemerintah kita.
Peristiwa ini mengingatkan kita para Idul Adha tahun 1439 H atau 2018 M, dimana saat itu terjadi perbedaan keputusan antara Saudi dengan Indonesia. Saat itu, Arab Saudi menetapkan Idul Adha 21 Agustus dan Indonesia tanggal 22 Agustus. Sementara wukuf di Arafah berlangsung pada 20 Agustus 2018.
Tahun ini, sesuai hasil sidang isbat awal Dzulhijah yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) pada 29 Dzulkaidah 1443 H atau hari Rabu (29/6/2022), pemerintah memutuskan pelaksanaan Idul Adha pada Ahad 10 Juli 2022. Sedangkan PP Muhammadiyah menetapkan 1 Dzulhijah 1443 hijriah jatuh pada hari Kamis, 30 Juni 2022, dan Hari Arafah 9 Dzulhijah 1443 hijriah jatuh pada hari Jumat, 8 Juli 2022. Karena itu, PP Muhammadiyah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijah 1443 hijryiah jatuh pada Sabtu, 9 Juli 2022.
Arafah dan Idul Adha
Perbincangan seputar penentuan Idul Adha memang tak lepas dari persoalan Arafah, karenanya ada dua pandangan yang berkembang. Pertama, berpandangan bahwa ‘Arafah’ adalah waktu, maka peristiwa Arafah adalah 9 Dzulhijjah sesuai kalender Islam negara masing-masing. Kedua, berpandangan bahwa ‘Arafah’ adalah tempat, maka peristiwa Arafah yang terjadi di Arab Saudi sebagai rujukan untuk menentukan hari Arafah dan Idul Adha.

