Arafah, Idul Adha dan Moderasi Beragama

Perbedaan penetapan hari besar umat Islam seperti awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah merupakan suatu kewajaran. Perbedaan ini bukan semata-mata metode hisab dan rukyat, melainkan terkait kriteria tinggi hilal. Pemerintah menetapkan 3 derajat, sedangkan Ormas Islam Muhammadiyah tetapkan kurang dari 3 derajat asal telah terjadi ijtimak (konjungsi) dan konjungsinya sebelum matahari terbenam maka telah ditetapkan sebagai bulan baru.

Menurut Oman Fathurohman, Pakar Ilmu Falak dan Hisab Rukyat PP Muhammadiyahbahwa perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah antara Pemerintah/Kemenag dengan Muhammadiyah telah terjadi tidak hanya kali ini saja.

Dan bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di berbagai negara-negara di dunia. Bahkan Oman mencatat, dalam kurun 25 tahun ke depan, yakni dari tahun 1444 – 1468 H atau 2023 – 2046 M diprediksi akan terjadi perbedaan Idul Adha antara Pemerintah dan Muhammadiyah sekitar 7 kali atau 7 tahun. Artinya, 7 kali dari 25 tahun itu berarti 25% nya berbeda dengan Pemerintah. Selain itu Idul Fitri juga diprediksi akan berbeda 6 kali dan awal Ramadhan 3 kali.

Dan perbedaan itu akan terus berulang, kecuali kalau kriteria (3, 6, 4)yang saat ini dipakai Pemerintah/Kemenag sebagai anggota MABIMS berubah. Kalau kriteria masih sama maka prediksinya seperti itu. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempersiapkannya.

Pemerintah harus mempertimbangkan apakah kebersamaan yang akan diutamakan atau keragaman yang menjadi pilihan. Hal ini terjadi karena kesepakatan kriteria baru MABIMS sebatas perubahan kriteria belum dilengkapi garis panduan yang menjadi acuan bersama.

Masing-masing negara anggota MABIMS masih bisa menafsirkan sesuai kemaslahatan negaranya. Dengan kata lain perubahan kriteria tidak menjamin kebersamaan antar anggota MABIMS apalagi dengan Saudi Arabia.