Produk Cina Masih Masuk di Malut

TERNATEMeski sudah ada penetapan darurat virus corona (covid-19)  di daerah Jawa Barat (Jabar). Namun di Maluku Utara (Malut) arus import barang dari Cina masih terus mengalir.

Bagian Ruang Seksi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Kantor Bea Cukai Ternate, Budi Setyono mengatakan, perlakuan impor ini masih berjalan karena tidak ada instruksi pemberhentian impor. Walaupun begitu, di area vital pelabuhan masih terus dilakukan peningkatan pengawasan. “Jadi sebelum pengawasan, dilengkapi dulu dengan alat pelindung diri, seperti masker, sarung tangan, dan kaca mata, sebelum melalukan pemeriksaan,” ungkapnya.

Ia mengaku, dengan beredar isu tentang corona memang tidak mempengaruhi pada kegiatan eskpor-impor,  ini karena kebanyakan sudah ada kontrak sejak lama, sehingga tidak ada pemberhentian sementara untuk kegiatan impor-maupun ekspor.

“Sementara untuk import masih kebayakan dari cina, karena terkait dengan pembangunan smelter, karena investornya juga kebanyakan dari cina,” ungkapnya. Dia mengaku, sejauh ini setiap barang masuk dan barang yang akan dikirim, Bea Cukai tetap melayaninya, sebab bea cukai juga melakukan pemeriksaan sarana pengangkut di atas kapal.

“Jadi nanti juga bersama dengan teman-teman kesehatan pelabuhan, yang kemudian lebih dulu memastikan steril atau tidaknya kapal tersebut, kalau memang steril barulah dilakukan pemeriksaan. Karena memang kami juga punya SOP, yang dilapangan yang selalu melaksanakan, makanya kami tetap bekerja setiap harinya, dan selalu berhati-hati,” pungkasnya.

Di Ternate semenjak menjamurnya berita tentang wabah virus corona di Jawa barat. Ada bahan dapur yang dilaporkan bisa menyembuhkan gejala virus (covid-19), seperti kunyit, jahe (guraka), langkuas, yang  masih tetap terjual dengan harga normal. Padahal di beberapa daerah di bagian Jawa sudah menjualnya dengan harga cukup tinggi.

Hasil amatan Koran ini, Kamis (5/3), ada beberapa pasar di Ternate, seperti pasar Higenis, pasar Percontohan dan pasar Barito, harganya masih normal saja, dan tidak ada peningkatan pembelian untuk sejauh ini.

Muhammad, penjual bahan-bahan tersebut di pasar Barito mengungkapkan, harga jahe tidak berpengaruh pada komsumsi pasar lokal Malut. “Tidak ada peningkatan konsumen, dengan adanya wabah corona tersebut,” katanya. Sejumlah kebutuhan pangan yang diduga bisa mengobati virus corona tersebut harganya masih normal, belum ada pergerakan naik. Untuk jahe (guraka) dari agen dijual per satu kilo seharga Rp. 30.000, diambil dengan harga Rp 35.000, dan kemudian dijual menjadi Rp 50.000 per kilo. Sementara untuk kunyit pengambilan dari produsen dengan harga Rp 5.000 per kilo, mengambil dengan harga Rp 6.000 per kilo, dan dijual dengan harga pasar Rp.10.000 per kilo. Sedangkan Lengkuas diambil dengan harga Rp 5.000 per kilo, dan dijual dengan harga pasar Rp 10.000 per kilo. “Jadi tidak ada kenaikan, itu juga masuk dalam harga normal,” ujarnya. (nas)

Berita Terkait

Berikan Komentar pada "Produk Cina Masih Masuk di Malut"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*