DARUBA – Kurang lebih dua bulan digantung, hasil tes screening Calon Kepala Desa (Cakades) Kabupaten Pulau Morotai akhirnya diumumkan, Rabu (08/09/2021). Pengumuman hasil screening dilangsungkan di Gedung olahraga SD unggulan Daruba, dengan mengundang langsung seluruh Cakades.
Hasilnya, dari 296 Cakades yang ikut dalam tes tersebut, hanya 6 orang yang dinyatakan lulus passing grade. Sementara 290 Cakades dinyatakan tidak lulus. Hanya saja, nama para Cakades yang lulus maupun yang tidak lulus tersebut masih di rahasiakan. Tindak lanjut atas hasil tersebut, Panitia Cakades Kabupaten bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPDM) akan menggelar pelatihan untuk Cakades selama tiga Minggu, agar bisa mencapai hasil yang maksimal.
Hanya saja, hal tersebut banyak dikeluhkan para Cakades dengan alasan waktu. “Tiga Minggu itu bukan waktu yang pendek, kita juga butuh kerja lain untuk menghidupi keluarga, jadi kalau bisa pelatihan dilakukan satu atau dua hari saja lah, dan perlu ada solusi yang lebih baik dari itu,” harap salah satu Cakades yang menolak namanya dipublikasi.
Terkait keluhan tersebut, Ketua Tim Seleksi Cakades Kabupaten Pulau Morotai, Prof Husen Alting, ketika dikonfirmasi awak media mengatakan dirinya sudah mendengar keluhan tersebut.
Keluhan itu, kata dia, akan dikonsultasikan ke Bupati Benny Laos untuk dicari solusi yang lebih baik. “Iya, tadi ada masukan dari teman-teman waktunya terlalu panjang, mempertimbangkan pekerjaan orang dan sebagainya, nanti kita usul ke Bupati dengan catatan kalau pak Bupati setuju nanti ada beberapa materi yang kita pres, jadi pemadatan materi sehingga waktunya bisa pendek, begitu teori dan caranya untuk mempersingkat waktu,” katanya.
Terkait rencana pelatihan itu, kata dia, pihaknya memiliki niat baik untuk memberikan pengetahuan kepada para Cakades. Walau sebagian Cakades ada yang masih menganggap dirugikan dari sisi waktu. Namun, bagi Husen, keluhan tersebut masuk akal, sehingga akan dipertimbangkan.
“Kalau kami dari Akademisi dapat ilmu mahal, karena kita harus bayar orang, saya sudah jelaskan kami akan undang narasumber yang ahli untuk kasih pengetahuan, kalau kami dari sisi akademisi sebenarnya menguntungkan. Investasi pendidikan itu kan mahal, tapi ini kita dapat gratis. Tapi ada yang menggunakan pendekatan waktu, tidak bisa bekerja, ya masuk akal. Karena dia lihat dari sisi waktu dia habis tidak bisa bekerja, jadi menurut saya itu masuk akal juga,” ujar Husen. Keluhan tersebut, lanjut dia, dirinya akan mendiskusikan dengan Bupati untuk dicari solusi yang tepat.
“Oleh karena itu kita mau mengkompromikan kalau dia waktu habis, tadi tidak bisa kerja, tidak bisa menambah pendapat, dengan bahwa harus juga menambah pengetahuan, ini yang kita coba mengkompromikan untuk diskusikan dengan Bupati bagaimana agar jangan terlalu lama disana, begitu,” terangnya.
Husen mengaku punya metode yang bisa mempersingkat waktu pelatihan, hanya saja agak rumit dilakukan. “Sebenarnya ada satu metode yang lebih gampang dan tidak waktu habis. Cuma kan saya tidak tahu kapasitas IT, kita bisa laksanakan dengan zoom IT misalnya, bisa dengan cara begitu, tapi kan kita tahu situasinya kan, tidak semua pendekatan itu bisa, akan lebih rumit, mungkin tidak lari ke situ,” timpal Husen.
Husen menjelaskan, pelatihan yang direncanakan itu bertujuan baik untuk memberikan pengetahuan dan edukasi terhadap Cakades. “Terlepas lagi dia mau terpilih apa tidak begitu, menurut saya itu luar biasa, melatih orang untuk menjadi baik kan itu mulia menurut saya. Tetapi ada sebagian teman-teman yang masih menganggap itu sebagai beban, tetapi beban itu dalam perspektif mereka, dan itu masuk akal. Karena kalau tiga Minggu tidak kerja, kita mau dapat duit dari mana, itu masuk akal, maka kita cari jalan tengah,” tandasnya.
Ditanya terkait data para Cakades yang lulus dan tidak lulus, Husen mengaku belum bisa membukanya ke publik. Namun bagi Cakades yang mau melihat nilainya bisa langsung ke Kepala DPMD karena semua data sudah diserahkan.
“Ini persoalan personal, sehingga kita tidak bisa umumkan (secara terbuka), kecuali yang bersangkutan mau melihat nilainya kita berikan, dan tak usah ke kami ke Kadis PMD juga bisa, karena nilainya kita sudah berikan. Karena kami takut disalahgunakan tentang nilai, dan proses ini kan masih berlanjut, bukan hasil akhir. Bedah kalau ini hasil akhir, kalau hasil akhir kita tinggal tulis di situ bukan nilai tapi dia tidak lulus seperti itu,” tuntas Husen. (fay)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

