DARUBA – Sebuah rumah di desa Tilei, Kecamatan Morotai Selatan Barat, milik keluarga Into mulai diancam abrasi sungai.
Pantauan Fajar Malut, Rabu (9/3/2022), posisi longsor tepian sungai dengan rumah tersebut hanya tersisa 4 meter.
Pemilik rumah ketika coba disambangi media ini tidak berada di tempat. Namun dari keterangan warga setempat, abrasi di sungai tersebut sangat menyulitkan pemilik rumah, karena jembatan penghubung yang dibangun pemilik rumah sering ambruk dihantam abrasi.
Apalagi, jembatan darurat yang dibuat diatas kali tersebut hanya dari batang pohon kelapa, sehingga mudah rusak ketika terjadi abrasi.
“Kasiang ia so bangun ulang-ulang jembatan kayu di muka rumah itu, tapi setiap kali hujan besar, kalau banjir pasti longsor, jadi rusak,” ungkap Akri salah seorang warga.
Tapi bagi warga setempat, masalah keluarga Into yang perlu membutuhkan langkah cepat pemerintah adalah rumahnya.
“Karena di dia pe muka rumah itu setiap kali hujan besar terus banjir, pasti longsor, baru longsornya itu kadang-kadang sampai setengah meter, jadi kalau tidak cepat dibangun talud, ke depan rumahnya itu tetap kena longsor,” katanya.
Tak hanya rumah, amatan media ini jalan raya pun ikut terancam abrasi. Bahkan posisi jalan dengan sungai hanya tersisa 1 meter, bahkan ada yang hanya tersisa 20 cm.
“Jalan raya ini satu kali musim hujan lagi langsung ambruk, karena diatas walau masih sekitar 20 cm, tapi di bawah itu dia pe longsong so dibawah jalan, jadi kalau mobil besar lewat bisa ambruk,” timpal Faisal warga lainnya.
Lanjutnya, longsor paling parah itu terjadi saat musim hujan Februari 2022 kemarin, dimana, hampir semua aliran sungai mengalami longsor.
“Ada yang longsornya hanya setengah meter, ada juga yang sampai 1 meter,” ungkapnya.
Menurut Faisal, sungai tersebut dulunya (15-10 tahun yang lalu) hanyalah saluran air yang dibuat pemerintah untuk jaringan irigasi persawahan. Namun, saat ini saluran air itu berubah menjadi sungai yang lebarnya hampir dua setengah meter. Bahkan sungai tersebut kerap menimbulkan banjir besar ketika tingginya intensitas hujan di wilayah tersebut.
“Jadi sudah saatnya aliran sungai disini dibangun irigasi, karena kalau tidak cepat, maka jalan raya akan putus,” harapnya. (fay)
Jangan Ketinggalan Berita Fajar Malut di Channel WhatsApp.
(tekan disini untuk bergabung)

