Mengajar Dengan Hati

Bripka Fandy mengajar siswa-siswi Batang Dua beberapa bulan lalu sebelum ada pandemi Covid-19

“Mendengar kata Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate saja, sudah membuat lemas, sebab untuk sampai ke kecamatan itu, hanya satu satunya akses, yaitu melalui jalur laut, itu pun tidak setiap hari sekitar 126 KM harus ditemput untuk sampai. Namun dimusim-musim tertentu akses ke kecamatan itu tertutup. Selain harus berhadapan dengan tinggi gelombang laut, minimnya fasilitas juga dimiliki oleh kecamatan terjauh seperti halnya telekomunikasi. Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate yang terletak di tengah-tengah antara provinsi Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut) secara geografis memang lebih dekat ke provisi Sulut”

Berikut Laporan Wartawan Fajar Malut Nasarudin Amin saat berkunjung di kecamatan Batang Dua.

Kurang satu jam empat puluh menit, matahari sudah tenggelam di laut lepas. Kapolsubsektor Pulau Batang Dua, Bripka Fandy Hasan terlihat gelisah mengamati gulungan ombak yang pecah di bibir pantai Bido, Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate yang merupakan kecamatan terjauh.

Di samping kiri dan kanan, pasir putih dan batu karang membentang, ada tiga personil tentara dan satu orang anggota Bawaslu Kota Ternate bercakap-cakap mengenai Pilkada serentak lanjutan tahun 2020. Sedangkan 60 meter dari pesisir pantai, ada ratusan ikan bermain di atas kulit air air.

Saya sengaja mengajak polisi kelahiran Kabupaten kepulauan Sula itu bertukar pikiran. Saat itu, dibelakang kami ada puluhan warga menyiapkan panggung Deklarasi Kampung Pengawasan Pemilihan Bermartabat (Kaliber), di sebelah kanan dari lokasi acara, ada 24 orang pemuda sedang asyik memainkan bola layaknya Maradona. Sementara Kiper-nya tengah asyik menjaga gawang seperti Gianluigi Buffon, pemain sepak bola profesional asal Italia yang menjaga gawang pada perhelatan Liga Champions.

Belakang diketahui, Bripka Fandy gelisah karena pandemi Covid-19 yang membuat dia tak bisa mengajari anak-anak sekolah di Kelurahan Mayau dan Perum Bersatu. Ia harus beradaptasi dengan situasi yang baru, meski di Kecamatan Pulau Batang Dua, Kota Ternate tidak ada warga yang terpapar coronavirus disease 2019.

Bripka Fandy merupakan satu-satunya Kapolsubsektor di Kecamatan Pulau Batang Dua yang sejak bertugas kembali di Kecamatan ini tahun 2020, ia membuka kelas non formal agar para siswa bisa belajar. Saya menyebutnya sebagai study privat. Tapi ia menyebutnya Mengajar Dengan Hati.

Kepada saya Fandy bercerita, selama bertugas di Batang Dua ia mengemban amanah sebagai Kapolsubsektor dan Bhabinkamtibmas. Seperti kata Albert Einstein : Berusahalah Untuk Tidak Menjadi Manusia Yang Berhasil, Tapi Berusahalah Untuk Menjadi Manusia Yang Berguna. Anggota Kepolisian Resort (Polres) Ternate ini akhirnya nekat membuka kelas privat di tahun 2020. Ia ingin mengejawantahkan bunyi alinea keempat pada pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Saya kira, kalau orang-orang di sini (Batang Dua) punya pola pikir yang baik, punya pemahaman yang setara dengan orang-orang di Kota. Maka bisa menekan angka kekerasan atau kasus di sini,” kata Fandy saat diwawancarai 28 September 2020 lalu.

Ia sempat bertugas di Kecamatan Batang Dua selama dua tahun, kemudian di 2018 dipanggil pulang untuk menjalankan tugas di bagian Ops Polres Ternate dibawah komando Kompol Jufri Dukomalamo yang saat itu menjabat sebagai Kabag Ops hingga menjabat Wakapolres Ternate.

Selama bertugas di Ternate, Polisi berdarah Sula-Tidore ini merasa ada yang hilang. Bagaimanapun jejaknya di Batang Dua masih selalu dia kenang. Ia akhirnya memutuskan untuk mengajukan pindah kembali ke Batang Dua pada 2020. Bagi Bripka Fandy, Batang Dua bukan hanya sekedar tempat tugas, melainkan sarana mengabdikan diri sebagai prajurit Polisi.

“Dua tahun lebih saya di sini, terus ditarik ke  Polres di bagian Operasional. Sebelumnya saya bertugas di lalu lintas di bagian SIM. Terus dimutasikan ke Batang Dua. Setelah menjalankan tugas di Batang Dua, karena kebetulan saya orang administrasi, maka saya ditarik kembali ke Ops waktu itu Kabag Ops, Pak Jufri Dukomalamo sampai beliau jadi Wakapolres, baru saya kemudian meminta izin balik ke Batang Dua,” katanya.

Polisi yang cinta seniman ini mengungkapkan, alasan ia meminta kembali bertugas di Batang Dua adalah untuk mengajari anak-anak di sana. Di dalam pikirannya, mengajar secara privat tanpa gaji bukan semata-mata untuk mencari popularitas, tetapi itu adalah panggilan hati. Ia merasa terpanggil karena ingin berbagi ilmu dengan anak-anak di sana.

Pernah satu waktu di tahun 2018, Kapolsubsektor ini diajak memberikan materi pada sebuah acara dialog yang diselenggarakan oleh Gereja GPM di Kelurahan Mayau. Kala itu, ia diminta berbicara mengenai aspek hukum Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dengan kemampuan yang seadanya, ia coba menyajikan materi sesederhana mungkin agar bisa di mengerti oleh masyarakat setempat.

“Yang saya kaget adalah saat saya memberikan materi. Tiba-tiba ada pertanyaan dari ibu-ibu mengenai KDRT, di situ saya berkesimpulan bahwa di Kecamatan ini banyak kaum perempuan yang belum memahami bentuk pelanggaran hukum terhadap KDRT,” ujarnya sembari mengingat-ngingat kisah itu.

Peristiwa ini kemudian mengilhami pikirannya untuk terus memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat, terutama anak-anak pelajar yang tak lain adalah generasi emas di masa akan datang. “Nah, setelah itu di tahun 2020, saya kemudian membuat study privat, siswanya kurang lebih ada 30 orang sekian. Pelajaranya macam-macam, mulai dari matematika, ilmu sosial, permainan tradisional, tata krama, hingga cara mencintai lingkungan,” katanya.

Bahan-bahan yang diperlukan seperti papan tulis, spidol, hingga buku-buku ia buat sendiri dengan menggunakan dana dari gajinya. Kecuali gedungnya, kata dia. Gedung yang dipakai sebagai tempat ia mengajar adalah bangunan yang kosong kemudian dimanfaatkan berkat izin dari penduduk di Kelurahan Perum Bersatu. Tak heran, antusias siswa pun begitu baik. Mereka menyambut program yang ia buat itu dengan semangat tinggi. Bahkan orang tua siswa yang ia ajarkan pun memberikan atensi yang cukup positif.

“Biasanya saya mulai kelas ini setelah anak-anak pulang sekolah, anak-anak yang saya ajarkan ini mulai dari siswa TK, SD sampai SMP. Bahkan jika ada tugas dari sekolah biasanya kami kerjakan waktu kelas dimulai, dan saking antusiasnya siswa, mereka membawa sendiri kursi dari rumah, karena saya tidak siapkan kursi,” imbuhnya.

Pernah dalam satu kali percakapan semasa saya masih berada di Kecamatan Batang Dua, Fandy menaruh harapan kepada semua pihak agar dapat bahu membahu memajukan Kecamatan Batang Dua agar setara dengan Kecamatan lain di Kota Ternate, terutama di sektor pendidikan dan ekonomi.

Kini program study privat  yang ia galakkan itu terpaksa berhenti karena wabah Covid-19. Ia harus beradaptasi dengan kehadiran wabah ini. Tapi semangatnya untuk berbagi ilmu tak pernah surut. Sebuah video berdurasi 7,8 menit yang ia kirim kepada saya pada 1 oktober 2020, sewaktu dalam perjalanan pulang ke Ternate menumpangi KM Sabuk 86 berhasil bikin saya ingin melompat dan berenang kembali ke Batang Dua. Saya merasa ada cerita yang terpotong karena belum saya garap sepenuhnya.

Bagaimana tidak, sejumlah siswa yang ia didik memanggil namanya. Sergio Emanuel Nora, seorang siswa di SD Negeri Inpres 78 Pulau Batang di Kelurahan Mayau lewat video itu menanyakan kapan bisa belajar seperti sebelumnya lagi. Pertanyaan serupa juga diucapkan Kastania Peo, salah satu siswa SMP Negeri 8 Kota Ternate, Kelurahan Mayau. “Pak Danpos kapan torang  (kita) belajar lagi,” kata siswa yang ia ajarkan itu lewat video yang saya terima.

Sementara Doni Toisuta, Pendeta GPM Jemaat Mayau pada 2019 lalu melalui sebuah potongan video membuat pengakuan bahwa Bripka Fandy Hasan adalah seorang anggota Polisi yang rendah hati, tegas dan berwibawa. “Ia menjalankan kepada yang ya (benar) dan tidak kepada yang tidak (tidak benar),” tegasnya.

Sebagai gereja kata dia, pihaknya sangat senang bekerja sama dengan Bripka Fandy karena ada banyak hal yang secara bersama-sama di dialogkan selama ini, terutama berkaitan dengan pengetahuan hukum. “Bripka Fandy adalah anggota polisi yang sangat toleran, ia tidak membeda-bedakan Suku, Agama, Ras, dan antar golongan.  Tapi satu yang paling penting, pak Fandy lama dengan anak-anak kecil. Karena itu banyak sekali anak-anak gereja kami yang suka bermain dengan pak Fandy,” ungkapnya.

Bripka Fandy menurut Dony Toisuta, bukan hanya polisi. Tapi dia adalah guru yang baik bagi semua generasi bangsa. “Atas nama gereja protestan Maluku, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Kapolri yang telah bersedia menempatkan seorang Bripka Fandy Hasan menjadi Bhabinkamtibmas di Kecamatan Batang Dua, kami percaya orang-orang seperti Bripka Fandy akan menjadikan Polri disukai dan disenangi oleh banyak orang,” ucap Pendeta yang sekarang sudah menjabat sebagai Sekretaris clasis GPM Ternate sebagaimana dilansir di dalam potongan video tersebut.

Belakangan juga diketahui, polisi dengan bentuk pangkat segitiga bersusun dan berwarna perak ini juga diam-diam sudah menyalurkan meteran listrik (listrik pintar) secara gratis kepada 1 rumah berpenghuni di Kelurahan Perum Bersatu, 1 rumah berpenghuni di Kelurahan Mayau, dan 2 rumah berpenghuni di Kelurahan Lelewi Kecamatan Pulau Batang Dua secara cuma-cuma. “Oh, itu ada empat rumah, saya bantu meteran listrik gratis itu karena memang saya ingin beribadah, lagian mereka yang saya bantu meteran listrik itu juga kemampuan ekonominya saya rasa agak pas-pasan, jadi saya bantu dengan biaya dari gaji saya,” katanya.

Barangkali ini yang membuat Stanley Tampi, pimpinan Gereja GPDI Lelewi memberikan apresiasi kepadanya. “Terima kasih kepada bapak Fandi, sudah membagi kasih secara langsung kepada warga kami, bagi saya apa yang dilakukan ini adalah perbuatan mulia, walaupun pak Fandy bukan orang Batang Dua, tapi begitu bertugas di Batang Dua dapat membantu masyarakat di Batang Dua,” ucapnya. (*)

Komentar

error: Content is protected !!