Gotong Royong di Atas Sampan


Peliput : Nasarudin Amin

PEKIK suara adzan maghrib pecah di puncak menara Masjid Nurul Bahar, kala itu matahari mulai terbenam ke peraduan, puluhan lampu di Kelurahan Tomalou, Kecamatan Tidore Selatan dinyalakan bergiliran. Saat itu wartawan media ini tengah berada di Dermaga, salah satu dermaga yang dijadikan pusat ivent festival kampong nelayan Tomalou pada 15 Februari 2020 mendatang.

Orang-orang yang tadinya batobo  (mandi pantai) di dekat dermaga tak lagi terlihat, mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Satu pemandangan yang berbeda dengan Kelurahan lainya. Ketua Pemuda Tomalou, Abdullah Dahlan Konoras bercerita, anak-anak di Kampung ini tumbuh dan berkembang di tepi laut.

Gulungan ombak seperti teman bermain, mereka sering menyaksikan orang tua mereka mencari nafkah di laut. Dalam histeriografi Indonesia modern, kalangan nelayan tradisional Tomalou memandang laut sebagai sumber kehidupan. “Disini, dahulu berjejer puluhan fiber (kapal penangkap ikan), tapi sekarang sudah mulai redup, ada banyak variabel dari luar yang berkontribusi terhadap mundurnya nelayan, bukan hanya di Tomalou, tapi nelayan di Tidore pada umumnya,” katanya.

Menurut Abdullah, sebelum krisis moneter melanda bangsa ini. Nelayan Tomalou hidup sejahtera, kebutuhan hidup selalu terpenuhi. Bahkan saat musim panen tiba, bau asin menusuk hidup ditengah cuaca terik. Bahkan saat krisis mencapai puncaknya, era reformasi membuka kran kebebesan.

Tapi itu tak berlaku lama bagi nelayan Tomalou, bagaiamapun juga, krisis telah mereduksi ekspektasi nelayan di kampungnya, mereka memilih beralih profesi, ada yang jadi tukang bangunan, ada juga yang memilih menjadi petani tahunan. Kenyataan itu telah menghantar mereka ke titik sadar. 

Rupanya hasil perenungan itu telah membawa Abdullah bersama warga di Kampungnya bermimpi lagi bahwa meski era sudah berubah, namun jiwa sebagai nelayan tetap terpatri dalam jiwa orang-orang Tomalou. Mereka segera merancang sebuah ivent festival kampong nelayan. 

Tajuknya patut diancungi jempol, bahkan orang sekelas Rocky Gerung pun harus geleng-geleng kepala dan mengakui kemampuan orang Tomalou mendesain sebuah ivent yang diberi tajuk “Menjaring Kekuatan di Atas Sanpan”. Menurut Rocky, yang dilakukan di Tomalou adalah satu vestival. Dalam bahasa Eropa adalah pesta, pertunjukan, pameran, memperlihatkan tanpa ada yang disembunyikan. “Di Desa yang kecil ini memperlihatkan bahwa Jakarta adalah Ibu Kota kekuasaan, tetapi di Tomalou adalah Ibu Kota pikiran,” ucap Rocky dalam dialog singkat di Tomalou belum lama ini.

Begitu pun anggota DPRD Malut, Sofyan Daud yang menjelaskan bahwa Kampung Tomalou sangat identic dengan civil society. Tomalou benar-benar menjadi komunitas yang mandiri, jarang sekali bergantung pada belas kasihan pemerintah. Karena itu masyarakatnya rata-rata kritis. 

Sejak masa kesultanan, selain kampung ini memiliki eksistensi sebagai nelayan, juga sebagai pasukan mariner kesultanan. Riwayat penjelajahanya bahkan sampai di pesisir Sulawesi, bahkan jejaknya bisa ditemui sampai di Kalimantan. “Festival ini mudah-mudahan menjadi ikhtiar, menjadi cara basudara (persaudaraan) di Tomalou bisa berbagi, secara kedalam ini menjadi ajang bisa mengkonsolidasi lagi ingatan, tekad, untuk merawat tradisi yang ada, kemudian keluarnya mau berbagi. Di sini sumber penghidupanya benar-benar di laut,” singkatnya.

Karena itu tema “Menjaring Kekuatan di Atas Sampan” menjadi pilihan yang diusung. Abdullah menjelaskan, tema ini memiliki dasar filosofi yang kuat berkaitan dengan Kampung Tomalou dan Laut. “Kata sampan ini saya identikkan dengan perahu, kebetulan Tomalou ini sejak dulu memang punya etos di laut, sehingga kita menggunakan kata Sampan, sampan ini memiliki semanat perubahan, soal bagaimana kita menghidupkan kembali etos yang sudah mulai punah pelan-pelan ini,” jelasnya pria yang juga menjabat Ketua KPU Kota Tidore Kepulauan itu.

Selain itu, pria yang ditemu mengenakan kameja berwarna biru tua itu juga mengaku bahwa nelayan dan warga di kampong itu juga aktiv dalam kegiatan konservatif, seperti menjaga peraian di pesisir Tomalou agar tetap bersih, itu dilakukan secara begotong royong. Baginya, ini adalah cara nelayan mempertahankan nilai-nilai yang sudah tertanam sejak dulu.

Hari sudah mulai gelap, wartawan media ini sebelumnya sudah mewawancarai Lurah Tomalou, Ishak Lukman. Saat itu ia bertutur, kegiatan gotong royong di Kelurahan Tomalou sudah hidup ratusan tahun lalu. Mata pencaharian moyang orang-orang di Kampung ini selalu terkait dengan laut. Mereka melakukannya secara bersama-sama secara. “Karakter itu sudah tertanam hingga sekarang. Rasa persaudaraan itu terus dipupuk sampai sekarang,” tuturnya. 

Jadi, walaupun beda pilihan, beda pemikiran, warga di Kampung itu tetap akan bergotong-royong saat komando sudah keluar dari kepala Kampung (kepala kelurahan). Artinya, warga di kampong yang ia pimpin ini memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. “Ada kerelahan dan keikhlasan untuk bergotong royong untuk kampong. Tradisi itu dari dulu. Biasa komando itu tergantung pimpinan di Kelurahan,” kisahnya.

Ishak berkisah, ketika itu tahun 1970. Kepala Kampung sebelumnya, Ahmad Hasan membangun etos leluhurnya, rasa humanisme yang dibangun menjalar sampai ke akar-akarnya. Sekarang di kelurahan yang ia pimpin itu bahkan sudah memiliki yayasan kesejahteraan yang orientasinya untuk kegiatan-kegiatan social.

Contoh kegiatan konservasi secara bergotong royonh yang digalakkan warganya adalah membangun sapti tank secara bergotong royong tanpa membutuhkan bantuan Pemerintah. “Sebelumnya memang saluran pembunagna kotoran manusia dibuang langsung ke laut. Sekitar 42 titik yang tersebar di Kelurahan Tomalou,” ucapnya.

Tetapi sekarang sudah tidak ada. Warga secara sukarela dan bergotong royong membangun sapti tank. Itu supaya kotoran tersebut tidak langsung terbuang ke laut, tetapi ditampung di dalam bak penampungan kotoran. Kata Ishak, dari 42 titik saluran pembuangan itu, 20 titik lebih dibangun semasa Lurah sebelumnya dijabat oleh Abdul Kadir Din, kemudian setelah ia menjabat, seluruh sisa saluran pembuangan tersebut ia selesaikan bersama warga.

Sebelumnya, Ishak juga berkisah, dahulu jumlah fiber milik nelayan di kampung ini berjumlah sekitar 60 unit lebih, paska krisis semua fiber tersebut mulai terdistorsi lalu punah, kini tinggal 15 unit kapal inkamina, kapal jenis fiber yang diberikan dalam program bantuan Menteri Kelauatan dan Perikanan Tangkap. “Kapal-kapal fiber ini sementara beroperasi di daerah Bacan,” jelasnya. 

Jasman Abubakar, tokoh masyarakat Tomalou yang saat itu ditemui di dermaga Tomalou, lingkungan RK 1 mengatakan. Tradisi gotong royong merupakan falsafah hidup orang-orang di kampungnya. Karena itu, tradisi ini harus terus digerakkan mesinya.

“Kesadaran ini harus terus kita pupuk di tengah-tengah masyarakat yang hidup di masa keterbukaan seperti ini, yang terkadang orang lebih individualistic, karena itu kita harus banyak melakukan kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat, dan ini adalah hal yang positif,” ujarnya seraya menambahkan masyarakat di kampungnya sudah memulai hal yang baik. (**)

Komentar

Berikan Komentar pada "Gotong Royong di Atas Sampan"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!