Jainudin Yusuf Diduga Korban Gagal Operasi Usus Buntu

Korban diduga gagal operasi usus buntu

Peliput : Nasarudin Amin

Jainudin Yusuf yang berusia sekitar 33 tahun warga desa Wayabula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai kamis (5/3) kemarin terlihat pasrah.  Ia diduga mengalami gagal operasi usus buntu sejak 3 tahun silam, atau tepatnya tahun 2017 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kapubupaten Pulau Morotai. Saat wartawan Fajar Malut mengunjungi rumah yang ia tumpangi di lingkungan Jan, Kelurahan Tabona, Kecamatan Ternate Selatan, kamis sore kamarin, ada pemandangan yang berbeda dari badan seorang Jainudin Yusup. Kantong kresek selalu dibawa oleh Jainudin, namun kantong kresek yang dibawa bukan untuk mengisi makanan atau cemilang yang akan ia makan, namun untuk menampung kotoran yang keluar dari perutnya.

Kondisi yang semakin memprihatinkan, karena perutnya masih saja mengeluarkan kotoran dari apa yang ia makan dan minum, sehingga kantong kresek selalu menemani pria yang berusia 33 tahun itu. Hidup Jainudin tidak setangguh dulu lagi, bisa berbuat apa saja, kapan saja yang ia inginkan, namun saat ini untuk mengangkat tubuhnya saja, ia harus bersusah payah dan membutuhkan waktu, tidak seperti manusia normal lainnya.

Hidup Jainudin kini bergantung pada sanak saudara, karena sejak dirinya menderita usus buntu 3 tahun silam, dirinya tidak mampu lagi bekerja, apalagi menafkahi kedua anak dan istri. Kondisi Jainudin yang tidak berdaya itu, diperparah lagi dengan istri dan kedua orang anaknya pergi meninggalkan dirinya. Badannya yang dulu terlihat kekar, secara perlahan mulai terlihat mengecil dan kurus. Bahkan dirinya mengaku kondisinya semakin hari bertambah parah, sehingga dirinya harus berdiam diri di rumah.  Ayah dua anak ini bercerita kepada Fajar Malut, dimana pada tahun 2017, dirinya mulai merasakan sakit dibagian perut.

Setelah dilakukan check-up di RSUD Kabupaten Pulau Morotai pada saat itu, dokter waktu itu langsung memvonis, jika dirinya mengalami gejala usus buntu, sehingga jalan satu-satunya harus dilakukan dengan operasi. “Awalnya, saya rasa perut saya sering sakit, waktu periksa (check-up), dong (mereka) bilang usus buntu,” kisahnya.

Jainudin yang sejak awal menolak untuk dilakukan operasi, karena merasa takut, ia kemudian dikuatkan oleh tenaga medis di RSUD Kabupaten Pulau Morotai pada saat itu, sehingga dirinya harus dioperasi.

“Dari pihak rumah sakit bilang tidak apa-apa, operasi sudah, barang hanya sedikit saja, dari situ saya mau untuk dilakukan operasi,” ceritanya. Setelah menjalani operasi, dirinya kemudian di izinkan oleh Dokter untuk pulang ke rumah, sambil mengkonsumsi obat yang telah diberikan.  Namun saat berada di rumah, ia tak kunjung buang air (buang hajat) selama seminggu, akibatnya perut membesar karena setiap hari harus makan dan minum. “Saya hanya makan dan minum, tapi tidak buang air, kemudian (perut) pecah, jahitanya terlepas, terus balik lagi ke rumah sakit,” kisahnya. 

Bahkan Jainudin rela sebanyak 3 kali bolak-balik ke RSUD Morotai sejak jahitan operasi usus buntu itu terlepas, namun yang didapatkan oleh Jainudin diluar dugaan, ia kemudian di vonis mengalami sedikit penyakit dibagian perut, sehingga lagi-lagi obat menjadi alternatif diberikan ke Jainudin untuk dikonsumsi. “Saya minum obat selama 9 bulan, kemudian periksa ulang di RSUD Morotai, mereka bilang sudah sembuh langsung operasi ulang untuk tutup kembali,” ungkapnya. Meski telah mengkonsumsi obat selama 9 bulan lamanya, sehingga dirinya merasa bisa untuk melakukan proses operasi penutupan lubang di bagian perutnya itu. Namun petugas RSUD Morotai waktu itu menyebutkan, operasi tersebut tidak bisa dilakukan di Morotai, sehingga Jainudin dirujuk ke RSUD Chasan Boesoiri di Kota Ternate.

Selama 2 tahun menderita di kampung halaman, baru pada 2019, Jainudin akhirnya berangkat menuju Ternate untuk melakukan check-up di RSUD Chasan Bosoire, guna melanjutkan operasi, namun apa dikata, RSUD Chasan Boesoiri waktu itu justru kembali merujuk ke Makassar Sulawesi Selatan (sulsel). “Tidak tau, di sini bilang tidak bisa operasi, kurang tau alasannya apa, di Ternate bilang harus dirujuk ke Makassar, itu satu tahun lalu,” akunya. Sementara untuk ke Makassar, ia tidak memiliki biaya yang cukup. Alhasil, Jainudin terpaksa berdiam diri di rumah kakaknya yang berada di lingkungan Jan, Kelurahan Tabona. “Tidak punya uang ke Makassar, di Makassar itu kita harus punya biaya,” keluhnya.

Selama menderita sakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pulau Morotai juga tidak pernah memberikan bantuan medis. Mungkin saja karena informasi tentang derita yang ia alami tidak sampai ke telinga Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai yang saat ini dinahkodai oleh Benny Laos sebagai Bupati. “Sempat waktu saya balik ke rumah sakit Morotai itu, dong (mereka) pasang keteter di perut,” katanya.  Hingga kini, perutnya masih saja mengeluarkan kotoran dari sisa makanan dan minuman yang ia konsumsi. “Buang air besar seperti biasa, hanya saja (kotoran) keluar dari perut,” katanya. Sementara itu Ketua Mada Laskar Merah Putih Malut, Muhammad Adam yang datang lebih awal dari wartawan Fajar Malut saat menjenguk Jainudin bercerita.

Dirinya baru saja bertemu dengan Kapolda Malut Kamis siang kemarin, di sana ia mendapat informasi ada warga yang terbaring sakit, karena operasinya yang tidak tuntas. Kemudian ia bersama rombongan organisasinya menuju ke Jan untuk melihat kondisi Jainudin. Kata dia, penyakit yang di derita Jainudin harus segera diangkat. Mereka ini beritikad baik untuk membawa Jainudin ke RSUD Chasan Bosoire guna dilakukan penanganan. Apalagi kata dia, Jainudin tergolong orang fakir yang butuh penanganan dari pemerintah setempat, seperti perintah pasal 34 UUD 1945, bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar diperlihara oleh Negara.

“Apapun, si penderita ini harus tertangani, mungkin dari RSUD atau Dinkes ambil langkah karena ini menyangkut dengan kemanusiaan,” tegasnya. Kepada Pemerintah Provinsi Malut dan Kota Ternate, Muhammad menaruh harapan agar dapat membantu Jainudin yang saat ini menderita gegara gagal operasi usus buntu.  “Kami memohon kepada seluruh elemen pemerintah di daerah, terutama Provinsi Malut dan Kota Ternate, karena RSUD ada di Ternate, kita tuntaskan masalah ini, bila tidak mungkin kami akan melakukan dengan cara lain, karena ini tanggungjawab kita semua,” ucapnya. Sore kemarin, selepas waktu sholat Ashar. Muhammad bersama rombongan organisasinya langsung membawa Jainudin ke RSUD Chasan Bosoire.

Kata dia, apapun yang terjadi, Jainudin harus ditangani, masalah biaya itu urusan nanti. “Kami juga upaya untuk dia terselamatkan, karena memang dia sudah terlalu sakit, kasihan aktivitasnya hanya di ranjang, kan orangnya masih mudah, masih aktif, dia masih diatas 30-an tahun, dia masih bisa menghidupi keluarganya, kebetulan dia juga sebagai seorang ayah, anak-anaknya membutuhkan sosok sang ayah, dengan kondisi ayahnya yang seperti ini, pasti apapun tidak bisa dilakukan,” ungkap Muhammad dengan mata berkaca. Ia juga mengaku telah menghubungi dokter Piter di RSUD Chasan Boesoire Ternate untuk menangani pasien tersebut.

Bahkan kata dia, dokter pun sudah menyanggupinya. “Untuk data dukungnya nanti kita kasih, kita akan bawa untuk menyampaikan ke beliau, ini data dukungnya, data alamat dan lain-lain, hari ini (kemarin) kita harus bawa ke RS, kita minta untuk segera ditangani, jadi tidak ada alasan untuk menunda,” katanya seraya menambahkan pihaknya hanya memfasilitasi Jainudin agar bisa berobat. Hingga Jainudin di bawah ke RSUD Chasan Boesoire, wartawan Fajar Malut masih melihat ada kecemasan di wajahnya. Barangkali ia sangat membutuhkan bantuan materil dan dukungan moral. (*)

Komentar

1 Comment on "Jainudin Yusuf Diduga Korban Gagal Operasi Usus Buntu"

  1. Maso akal lagi, dari tahun 2017 kong sampe 2020 ini Tara Pi berobat?

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!