Tiga Tahun Kurnia Tersiksa karena Biaya


Oleh : Iin Apriyani

“Anak saya lahir dalam kondisi normal, namun semenjak Desember tahun 2019, mulai muncul benjolan pada perut, dan kini mulai membesar,” ungkap Lasmi Ali, ibu Kurnia Ramadan Retob (3), balita yang mengidap penyakit langka saat ditemui di ruang anak RSUD Jailolo, Rabu (22/1) kemarin.

Warga Desa Soakonora Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat ini menuturkan, tidak ada gejala-gejala penyakit yang diderita buah hatinya itu seperti saat ini.

Anak laki-laki dari pasangan Rian Amran (30) dan Lasmi Ali (23) dirawat di RSUD Jailolo semenjak Sabtu (18/1). Kurnia meringis kesakitan karena menahan sakit pada perutnya. Ia hanya menangis meminta digendong oleh ibunya.

Rian Amrin, ayah dari pasien mengaku, pihak dokter RSUD Jailolo dan juga perawat sudah melakukan pemeriksaan, tapi belum diketahui penyakit yang diderita anaknya itu.

Kurnia sempat dibawa ke salah satu dokter praktek di Ternate untuk diperiksa (USG). Dari hasil keterangan dari dokter, pasien ini mengidap penyakit dengan benjolan tepat di atas ginjal.

Dokter menyarankan pasien dirujuk ke Makassar agar mendapat penanganan medis yang lebih baik. Sayangnya, masalah biaya, Kurnia belum juga dibawa ke Makasar sesuai anjuran dokter.

“Harapan kami selaku orang tua pasien, pemerintah dalam bupati membantu biaya pengobatan akan kami ini, karena kami dibawa ke Makasar tentu butuh anggaran besar,” harapnya.

Sebelum masuk rumah sakit, dari pihak Dinkes Halbar mendatangi rumah pasien. Informasi yang diperoleh Fajar Malut, pihak Dinkes berupaya merujuk Kurnia paling lambat Jumat pekan ini.

Direktur RSUD Jailolo Syafrullah Rajilun, pasien sudah ditangani sesuai prosedur. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinkes kira-kira dirujuk paling lambat hari Jumat,”terangnya

Fira Jafar, keluarga pasien, mengungkapkan, Dinkes Halbar  selalu dampingi pasien semenjak pasien masih di rumah hingga kepengurusan BPJS Kesehatan.

“Dari informasi yang kami dapat dari Dinkes juga nanti kalau untuk rujuk ke Makassar. Soal biaya akomodasi hingga transportasi akan mereka siapkan,” ujar Fira.

Sejauh ini warga serta organsasi-organisasi terus berupaya menggelang dana pengobatan Kurnia. “Sampai saat ini cukup banyak juga dari ormas dan aliansi serta warga ikut terlibat dalam membantu pasien dengan berikan donasi,” tuturnya

Selain transfer langsung ke rekening, ada juga yang masih proses penggalangan dana.

Untuk pengurusan BPJS Kesehatan pasien, cerita Fira, semenjak Kamis pekan kemarin. Data-data semuanya sudah dimasukan, namun pihak BPJS menyampaikan pasien baru bisa terdaftar per 1 Februari 2020 karena semua sudah pakai sistem online, walau mau percepat. “Tetapi tidak bisa karena harus lewat prosedur langsung dari pusat,” kata Fira.

Namun, ada kebijakan dari pihak BPJS seandainya memang pasien benar-benar tidak bisa ditahan lagi dan harus dirujuk secepatnya, maka nantinya mereka akan koordinasi langsung dengan pihak rumah sakit di Makassar. “Tapi aturan yang berlaku itu cuma tiga hari di Makassar,” terangnya.

Fira berharap, ada uluran tangan dari pemerintah daerah, mengingat Kurnia tidak bisa tidur karena menahan rasa sakit pada perutnya.Tiga tahun sudah Kurnia tersiksa karena biaya. (*)

Komentar

Berikan Komentar pada "Tiga Tahun Kurnia Tersiksa karena Biaya"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


error: Content is protected !!