Mari Bermi’raj Agar Halteng Lebih Maju

IMS menyampaikan, dengan isra mi’raj, mari kita ber mi’raj agar Halteng lebih berkemajuan. Dan kehidupan berkemajuan harus di lantari dengan rasa damai, rasa nyaman, rasa tidak tertekan.

“Kita mau maju tapi kita tertekan, kita mau maju tapi takut itu tidak akan maju. Dan kita sudah buktikan guru-guru kita yang masuk 10 terbaik metode gasing, empat diantaranya sudah menjadi perwakilan Malut, bukan Halteng lagi,” terangnya.

“Artinya kita sudah mengalahkan kabupaten lain di provinsi Maluku Utara dalam urusan guru matematika metode gasing,” tuturnya.

Untuk itu, dengan pelantikan pengurus PWC NU Halteng ini menjadi momen untuk menjalin silaturahmi, terus mengembangkan jati diri sebagai orang Halteng, bukan orang Gebe, Patani atau Weda. Tapi kita adalah orang Halteng. “Kenapa? Karena secara sosial keberagaman saat ini kita (Halteng) lebih dari Malut,” jelasnya.

Di Malut ini coba dicari orang dari Singkawang di kabupaten lain yang ada di Malut, ada atau tidak? Gak ada. Kalaupun ada paling hanya satu dua orang, tapi di Lelilef, di Halteng sangat banyak. “Maka keberagaman sosial kita itu lebih kuat daripada kabupaten/kota lainnya di Malut,” bebernya.

Karena keberagaman kuat, maka Halteng juga harus lebih maju. “Semua orang yang datang disini itu bekerja, semua orang yang datang disini akan ikut bersama-sama kita untuk membangun Halteng dengan latar belakang yang berbeda-beda,” tuturnya.

IMS berharap isra mi’raj ini bukan hanya sebuah tema yang setiap tahun kita rayakan. Tapi implementasi dari pada isra mi’raj itu adalah bagaimana kita merubah sikap dan perilaku kita. Merubah yang tadinya pasif menjadi aktif, yang tadinya masa bodoh menjadi lebih strong yang intinya bersifat parsial menjadi terintegrasi.

Berita Terkait