Mades, Anak Buruh Pelabuhan Yang Berhasil Raih Doktor

Mades

Penulis : Nasarudin Amin

“Mari Pergi Pada Kisah Dr. Muhammad Ade Salim [Mades] Yang Berhasil Menarik Gerbong Kereta Bagi Adik-Adiknya”

Bangga, Segan, Senang dan Hormat. Itu kata yang pantas saya ucapkan sebagai pemantik mencairkan kisah yang beku. Ketika mulai rutin menulis, pada suatu momen, saya sudah berniat menulis tentang Muhammad Ade Salim, yang sering saya sapa dengan sebutan Mades, anak tenaga buruh pelabuhan yang kini menyandang gelar Doktor Peternakan. Tulisan ini tak bisa ditunda lagi, karena momen dan mood –nya sudah pas untuk memulainya.

Pecan kemarin, saya bertamu ke rumahnya di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara. Seperti biasa, Muhammad Ade Salim, tetap menjadi lelaki yang tidak menangis. Ia masih tetap menjadi ‘hero’ atau ‘superhero’  bagi anak-anak dikampungya. Mades begitu penyabar dan humoris.

Tanganya yang seni sudah melukis banyak wajah. Diantara lukisan yang ia buat, ada yang sudah tersebar hingga ke Pulau Jawa. Ada juga lukisan panorama alam, lukisan potret diri. Bahkan ia juga pernah melukis, Drs. H. A. Rahayaan, Bupati Key dan Jaksa Tinggi Maluku di masanya. Dari lukisannya pula, ia mengais rezeki sekadar mengisi perut semasa ia menjalani masa-masa sulit di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Kini anak tenaga buru pelabuhan itu menjadi pohon besar. Lahan di dalam otaknya mampu memasok pikiran yang lebih maju. Saya mendongakkan kepala sembari mendengar satu demi satu kisah yang ia lalui. Walau pohon di kepalanya sudah sangat tinggi. Tapi saya ingin mendapatkan pembenaran dari kisah legendanya.

Saban hari, di usianya yang masih pagi. Dan Salim Mahmud (alm), ayahnya yang sudah memasuki usia senja menitipkan amanah kepadanya. : “ Ade, (sapaan kecil Dr. Mades) kamu adalah anak tertua. Kamu mesti mampu menjadi kepala kereta yang menarik gerbong bagi adik-adikmu. Kelak ketika kamu sudah berhasil, adik-adikmu akan ikut jejakmu. Mereka juga akan tumbuh sukses sepertimu,” kata-kata itu terus berputar dikepalanya, diusianya yang masih pagi itu, Mades membuat keputusan. Ia tak akan mengulang sejarah. Ia ingin hidup seperti pesan  dan harapan sang Ayah. Menjadi orang sukses di jalan pendidikan. Waktu sudah menunjukan pukul 21.20 WIT. Putra dari pasangan Salim Mahmud dan Saija Kadir ini melanjutkan ceritanya. Tanggal 15 Juni tahun 1992, Mades bersama dua orang rekannya ditemani Arnold, gurunya di waktu ia SMP berangkat ke Ambon menggunakan KM. Kerinci. Mereka akan kuliah di Universitas Patimura (Unpati) Ambon, Provinsi Maluku.

Drama hidupnya bertambah seru karena ada cerita lain dibaliknya. Ia yang dari kampung, begitu norak melihat dunia baru di kampusnya. Bahkan ia gemetaran di hari pertama mendaftar Kuliah. Belum lagi karakter dosen Ambon yang conon begitu keras saat mendidik. Ade awalnya memilih mendaftar di jurusan Perikanan, namun karena keterbatasan fisik. Salah satu dokter di Kampus Unpati menyarankannya untuk pindah ke jurusan Pertanian supaya bisa berkonsentrasi di bidang Peternakan. Ade bercerita, memasuki usia yang ke 2 tahun kuliah, ia sudah mulai melukis, hasil lukisan itu kemudian dijual. Ibunya yang hanya berjualan di pasar membuat ia harus lebih tabah menjalani hidupnya.

Lalu pada tahun 1999 pecah konflik horizontal. Konflik itu berjalan sampai tahun 2002. Kuliahnya terpaksa berhenti. Tapi saat kerusuhan pecah ia dilindungi oleh Ruben Latuari (Alm) seorang Raja beragama Kristen Protestan di Desa Nusaniwe, Dusun Eri Ambon. Ia dilindungi karena sudah diangkat sebagai anak angkat raja. Sampai situasi tak bisa lagi terkendali, Mades akhirnya dikirim pulang ke Tidore oleh Ruben Latuari.

Setelah kerusuhan meredah, tepatnya tahun 2001. Mades balik ke Ambon untuk selesaikan study S1-nya. Ia selesai pada tahun 2002 dengan judul skripsi : Kajian Teoritis Metode Thawing Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Bali. Selama itu pula ia dibimbing oleh Prof. Jefri Watimena. Lalu suasana menjadi hening. Dr. Mades bilang, tahun 1998 ia mendengar kabar Salim Mahmud, tenaga buruh pelabuhan yang adalah ayahnya tutup usia. Terpukul tentu, tapi Mades tak pernah menyia-nyiakan amanah bapaknya. Ia terus berjuang menggapai cita-citanya. Semangatnya untuk kuliah terus menyala-nyala. Ia begitu menekuni ilmu reproduksi ternak.

Dipertengahan menulis naskah ini. Saya ingin kita semua yang membaca tulisan ini bersepakat untuk tidak melihat orang hanya saat suksesnya. Lihat juga perjuangan menuju sukses itu. Mades kemudian pulang ke Tidore, untuk pertama kalinya ia mengabadikan diri mengajar di tiga sekolah yakni SMP di Kelurahan Rum, SMP Tododara Maitara, dan Madrasah Aliyah Mareku.

Dari Caleg ke Dosen

Syahdan. Dunia mungkin tidak akan semarak sekarang. Andaikan tidak diramaikan dengan pesta demokrasi. Orang bijak bestari mengibaratkan kekuatan dan kesempatan dalam percaturan politik bak dua sisi mata uang. Artinya, eksistensi masing-masing berada dalam posisi yang saling dukung dan saling menafikan. Karena itu, dalam dunia politik kekuatan kerap kali ditata untuk memanfaatkan kesempatan, dan kesempatan diraih lewat kekuatan.

Sayangnya, ibarat itu tidak dibuat oleh Dr. Mades. Tahun 2004 bergelanggang sebagai calon legislative Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Tidore Utara. Ia kalah telak, bahkan sebelum pertarungan dimulai, banyak orang sudah meramalkan ia tidak akan bisa menang. Tapi bukan itu yang ingin ditunjukan. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang bahwa ia ingin mengabdi.

Api semangatnya tak pernah padam. Sebab ada juga hikmah lain yang ia peroleh bahwa dari proses Calon Legislatif, orang-orang akhirnya tahu bahwa ia juga seorang seniman. Bukan cuman melukis poster-poster caleg-nya saja. Tetapi ia juga pernah melukis beberapa wajah Kandidat lainya, mereka adalah Abang Mito (Alm) dan mantan anggota DPD RI, Abdurahman Lahabato.

Tak berhasil terpilih sebagai legislative. Tahun 2006 ia banting setir dan ikut seleksi dosen di Universitas Khairun (Unkhair) Ternate. Mades berhasil menjadi dosen di Fakultas Pertanian, bidang peternakan. Rezeki memang sudah ada jalanya. Mades bilang. Sejak lulus tes dosen ia sudah berkomitmen menekuni dan mendisiplinkan diri menjadi akademisi. Alhasil tanggal 1 April 2006, tanggal mulai terhitung (TMT) Mades diangkat menjadi dosen. Tak butuh waktu lama, empat tahun berikutnya Mades mendapat bantuan Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana (BPPS) yang dikelola oleh Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Tahun 2010 ia berangkat ke Malang, dan melanjutkan study S2 di Universitas Barawijaya Malang. 1,8 tahun kuliah dan akhirnya wisudah dengan judul tesis : Pengaruh Metode Thawing Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Bali, Sapi Ongol, Sapi Madura. Mades dibimbing oleh Prof. Trinil Susilawati dan Dr. Sri Wahyuningsi yang telah membimbingnya selama ia melanjutkan strata dua di Malang.

Usai wisuda, ia kembali mengabdi di Unkhair. Tapi tak butuh waktu lama, tiga tahun berikutnya ia juga mendapat beasiswa pendidikan dalam negeri (BPDN) untuk jenjang doctoral. Universitas Barawijaya masih menjadi kampus yang ia pilih. Di sini ia memilih program study doctor ilmu peternakan. Pada tahun 2019 kemarin ia menyelesaikan disertasinya. Mades diuji oleh tiga promotor hebat dan teruji. Mereka adalah Prof. Dr.Ir Trininil Susilawati. M.Si.IPU. Prof. Dr.Ir Muh. Nur Ihsan, M.Si dan Dr. Ir. Nurul Isnaini,MP. Kini ia merasa senang sebab cita-cita Ayahnya selama ini telah ia kabulkan. Ia berpesan kepada seluruh anak muda yang membaca tulisan ini agar lebih berani melanjutkan study. Jangan ragu sebab disetiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Mengajar dan Berkebun

Usai study S3, kini Doktor pertama di Kelurahan Rum, Kecamatan Tidore Utara ini lebih sering  berkebun jika tak ada pekerjaan di kampus. Ia memang sengaja menghindari jabatan structural karena letak geografis rumahnya yang begitu jauh. Ia merasa kerepotan jika memengang jabatan structural. Akhirnya berbagai alasan ia buat untuk menghindari jabatan itu. Dari pengakuanya, beberapa kali pernah ditawari jabatan Ketua Program Study di Fakultas Pertanian Unkhair Ternate. Tetapi ia menolaknya dengan alasan-alasan yang kongkret.

“Tapi kalau terpaksa mau bikin gaimana lagi?, kalau semua orang sudah ada kerja, kemudian sekarang waktu untuk saya pegang, kan tidak bisa lari lagi. Nanti mereka bilang saya lari dari tanggung jawab,” katanya seraya melepas tawa.

Dr. Mades punya cita-cita yang mulia. Ia ingin membuat satu lembaga riset dan laboratory teknologi di Kampungnya. Ia ingin menghasilkan output ilmiah yang bermanfaat di dunia peternakan. Tapi sayang, cita-cita-nya itu belum berjalan karena tak punya biaya. Meski begitu menurut dia. Di Provinsi Maluku Utara, potensi peternakannya begitu besar. Lahanya juga masih bebas, tinggal diterapkan teknologi peternakanya, sehingga selain memberikan pemasukan kepada daerah, juga menghidupi peternak local kita. Ia juga menyarankan agar BUMD yang ada Provinsi ini menggarap sector tersebut. “Mestinya (BUMD) kembangkan Pertanian dan Peternakan. Itu harus menjadi rencana kerja daerah sebab bisa mendatangkan PAD, itu potensi non retribusi. Peternakan, perkebunan, dan perikanan apalagi,” singkatnya. [**]     

Berita Terkait

Berikan Komentar pada "Mades, Anak Buruh Pelabuhan Yang Berhasil Raih Doktor"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*